Merpati Penghias Taman dan Halaman Masjid di Arab Saudi

0
149

MADINAH, FOKUSJabar.com : Burung merpati menjadi penghias taman dan halaman masjid di seluruh Saudi Arabia. Bukan hanya di Mekkah dan Madinah saja. Tapi juga di Jeddah, Riyad, dan lainnya.

Malah mungkin di seluruh Timur Tengan dan Asia Barat. Seorang jamaah asal Suriah, Mohammed Noor Assif, mengatakan, ribuan burung merpati tetap memenuhi taman di depan masjid Umawi, Damaskus, walaupun di sekitarnya tak pernah sepi dari dentum senjata api.

Maklum sudah hampir tiga tahun , Suriah dilanda perang saudara. “Merpati simbol kedamaian. Tak kenal huru-hara ,”cetus Assif dengan wajah sendu.

Merpati Penghias Taman dan Halaman Masjid
Merpati Penghias Taman dan Halaman Masjid

Ribuan merpati penghias taman dan halaman masjid, terdapat pula di Turki. Masjid Sulaiman dan Masjid Biru, di kota Istambul, menjadi salah satu tempat pavorit burung yang tampak jinak itu.

Konon, merpati di Mekkah dan Madinah, merupakan keturunan dari merpati yang pernah “membela” Nabi Muhammad Saw di gua Gunung Tsur. Waktu itu, Nabi Saw bersama sahabat Abu Bakar, bersembunyi di sebah gua Gunung Tsur, kl. 5 km sebelah selatan Mekkah.

Beliau berdua akan pergi hijrah ke Yatsrib (kelak bernama Madinah), yang terletak sebelah utara Mekkah. Untuk menghindari kejaran kaum Quraisy, membelok dulu ke selatan.

“Miceun salasah”, kata orang Sunda.

Namun Suraqah, seorang pemuda Quraisy, berhasil menemukan jejak Nabi Saw dan Abubakar. Kaki kudanya sudah berada di depan gua persembunyian Nabi Saw. Ia sudah membayangkan hadiah 1.000 ekor unta yang dijanjikan para pembesar Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sofyan, dll., kepada siapa yang dapat menangkap Nabi Saw hidup atau mati.

Ketika Suraqah turun dari kuda, akan memasuki gua, ia terkejut. Di lubang gua ada merpati sedang mengerami telur. Juga sarang laba-laba dan setangkai pohon. Suraqah berpikir, jika ada orang masuk gua, tentu merpati sudah kabur, sarang laba-laba jebol, dan pohon akan rusak terinjak-injak. Maka dia membatalkan niatnya. Lalu menaiki kembali kudanya, untuk mencari jejak Nabi Saw ke arah lain.

Seorang ulama ahli hikmah, menyatakan, jika saja Suraqah terus masuk, tentu nasib Nabi Muhammad Saw dan ajaran Islam yang diamanahkan kepadanya, akan putus di situ. Dan betapa merpati, pohon, dan laba-laba, berjasa melindungi beliau,atas izin Allah SWT.

“Maka kita harus malu kepada mahluk yang lebih rendah daripada manusia itu, akan keberaniannya membela Nabi Saw. Bandingkan dengan kita yang sering ingkar dari sunnahNya,”kata ulama tersebut.

Mungkin karena masih keturunan merpati gua Gunung Tsur, tak ada seorangpun yang berani mengusiknya. Mereka dibiarkan terbang bebas, berkerumun mematuki makanan yang sengaja ditaburkan. Banyak yang mendapat rejeki dari keberadaan merpati itu.

Antara lain para pedagang biji-bijian, kebanyakan perempuan asal Afrika, yang menjualnya 1 Saudi Real (kl.Rp 4.000), satu bungkus. Laris manis, karena memberi makan burung-burung itu dianggap “ith’amuth tha’am” (memberi makan) berpahala tinggi, sebagaimana anjuran Nabi Saw.

Selain simbol perdamaian seperti kata Mohammed Noor Assif tadi, merpati juga menjadi sumber ilham untuk karya sastra. Ibnu Hazm (abad 10 M), ulama Andalusia (Spanyol), menulis buku puisi “Tawqul Hamama” (Kalung Burung Merpati) yang termashur hingga kini dan sudah diterjemahkan ke segenap bahasa di dunia. Selain sastrawan pecinta keindahan, Ibnu Hazm juga terkenal sebagai ulama fiqih berkat karyanya “Al Muhalla” dan pakar perbandingan agama dengan karyanya”Al Fasl Minal Milal wan Nihal”.

Kapan di kota-kota besar Indonesia, taman-taman dihiasi burung merpati yang hidup bebas, aman dari gangguan dan menjadi simbol keramahan lingkungan? (Usep Romli HM)

There are no comments yet