Nobar Film Langit Terbelah, Gubernur Aher Tekankan Kebangkitan Islam

0
15

BANDUNG, FOKUSJabar.com: Relevansi ajaran Islam justru kian menemukan titik kuatnya ketika semakin didiskreditkan. Manakala banyak pihak melakukan kampanye hitam tak beralasan, pada titik itu pula, gemintang dan kemilau agama Islam kian muncul, justru di kalangan para pembencinya.

Situasi ini terlihat di Amerika Serikat, yang mana sekira 20.000 warga non-Muslim, terutama dari kalangan Hispanik (keturunan Latin), setiap tahunnya memeluk Islam justru setelah terus mengakses diskredit dan kampanye hitam Islam. Mereka berbalik penasaran, simpati, dan akhirnya melafalkan syahadat.

Pada waktunya nanti, menilik sejumlah fenomena ini, kebangkitan agama Islam di dunia akan kian terasa. Baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, seperti diperkirakan sejumlah pakar, pemeluk agama Islam yang kini mencapai 22% kelak akan menjadi mayoritas di dunia pada tahun 2050 nanti.

Demikian disampaikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) ketika dimintai tanggapannya terkait pesan yang tersajikan dalam Film “Bulan Terbelah di di Langit Amerika” di Blitz Megaplex, Sukajadi, Ahad (20/12) malam.

“Film ini kian menegaskan kuatnya pengaruh Islam di dunia, hari ini dan terutama ke depannya. Ketika makin dijelek-jelekkan, makin di-black campaign, makin disudutkan, bukannya semakin tenggelam namun semakin keluar pesona dan kebenaran ajarannya,” kata Kang Aher, sapaan akrabnya, dalam kegiatan nonton bareng bersama sejumlah OPD (organisasi perangkat daerah) di Pemprov Jabar itu.

Menurut dia, keterangan valid dari Imam New York Syamsi Ali, ketika mengisi ceramah bersama di Pusdai, 13 Desember 2015 lalu, menyebutkan hijrahnya sejumlah warga Amerika Serikat keturunan Latin kepada agama Islam. Pelafalan dua kalimat syahadat malah kian kencang beberapa saat terakhir terutama setelah sejumlah serangan teroris yang digembar-gemborkan media Barat dilakukan kalangan Islam.

“Ini kian menegaskan apa yang dikatakan dalam Hadist Rasul dan ayat Quran. Dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa agama ini akan sampai ke seluruh pelosok peristiwa siang dan malam. Islam akan sampai ke seluruh penjuru bumi, apapun kondisi dan rintangannya,” katanya.

Sementara dalam Al-Quran, sambung Aher, Allah Swt telah berfirman bahwa cahayanya tidak akan berhenti sebelum sempurna. Dengan kata lain, proses pemberian hidayah akan terus terjadi sekalipun banyak tantangan dan rintangan yang akan menghujam agama ini.

Dalam kegiatan tersebut, Aher selain dengan pimpinan OPD, juga menonton bersama Hanum Rais, anak Amien Rais yang juga penulis buku “Bulan Terbelah di di Langit Amerika” yang kemudian difilmkan. Hadir pula artis pemeran seperti Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, dst.

Film ini merupakan lanjutan dari buku Hanum serta sekuel film sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Bulan Terbelah di Langit Amerika menawarkan banyak cerita yang dari pasangan-pasangan di film ini. Pasangan kekasih, suami istri, ibu anak, dan ayah anak.

Kisah film ini merangkum kemarahan pada Islam dengan berbagai sudut pandang. Sebagai negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia, film ini secara cerdas menyentil perasaan muslim di Amerika yang mungkin akan menjadi emosional jika kita menonton film ini.

Setelah mendapat kiriman email video seorang gadis berjudul “Do you know my dad?”, Hanum (Acha Septriasa), seorang jurnalis muslim dan bekerja di sebuah kantor berita di Wina, Austria diberi tugas menulis artikel provokatif oleh pimpinannya berjudul “Apakah dunia lebih baik tanpa Islam?”.

Untuk menjawabnya, Hanum harus bertemu dengan korban tragedi 9/11 di New York, Azima Hussein (Rianti Cartwright), seorang mualaf yang bekerja di sebuah museum, dan anaknya, Sarah Hussein.

Pada saat yang bersamaan, Rangga (Abimana Aryasatya) suaminya, juga ditugasi profesornya mewawancara seorang milyuner dan philantropi Amerika bernama Phillipus Brown, demi melengkapi persyaratan S3-nya. Brown dikenal eksentrik, misterius, dan tidak mudah berbicara dengan media.

Rangga diminta menemui Stefan (Nino Fernandez) dan kekasihnya Jasmine (Hannah Al Rasyid) yang berada di New York yang telah mengatur pertemuan eksklusif dengan Brown. Malang tidak dapat ditolak, tugas mereka berantakan ketika sebuah demostrasi besar berakhir ricuh dan membahayakan keselamatan mereka.

(Vina/Vetra)

There are no comments yet