Share This Post

Google1GoogleYahooBlogger

Logo-fokus-ginding

Portal berita digital ini berada di bawah naungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Jawa Barat, dengan operasional teknis harian dilaksanakan oleh Koperasi PWI Jabar.

Berdiri sejak 1 November 2012, FOKUSJabar.com adalah kanal informasi di Jawa Barat yang Kritis, Positif dan Etis, seiring kehadiran sekitar 1.400 anggota PWI Jabar yang umumnya siap mengabarkan informasi terdepan dari seluruh pelosok.

FOKUSJabar.com hadir bukan sekedar dengan kuantitas personel tadi, namun juga bertekad memberikan informasi terkini seputar Jabar yang penting, relevan dan bermanfaat.

Juga,akan menyajikan pelbagai informasi ringan yang beda, kreatif, dan mencerahkan guna menyeimbangkan kebutuhan informasi netizen (internet citizen).

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia, Jabar juga diproyeksikan akan memiliki netizen paling banyak.

Karena itulah, jejaring informasi yang terluas, terbesar namun bertanggungjawab menjadi pijakan FOKUSJabar.com. Hari ini, esok dan selamanya.

Proyek Jabar Selatan Lambat, Bina Marga Jabar Harus Tanggung Jawab

Oleh : Deni Rinjani

GARUT, FOKUSJabar.com : Dua komunitas masyarakat Jabar Selatan (Jabsel) menuding Dinas Bina Marga Jabar lepas tangan soal keterlambatan pembangunan proyek infrastruktur lintas Jabar Selatan senilai Rp1 trilyun. Tidak hanya itu, mereka pun mengancam akan melaporkan oknum di Bina Marga dan kotraktor ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pengawas Keungan (BPK).

Ketua Bidang Kewilayahan Forum Jabar Selatan, Suryaman Anang Suatma menyesalkan atas pernyataan pihak Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, tentang proyek pembangunan infrastruktur lintas Jabar Selatan senilai Rp1 trilyun dianggap sebagai cash program dinilai sumir masyarakat Garut Selatan.

Ketua Bidang Kewilayahan Forum Jabar Selatan, Suryaman Anang Suatma  (Foto: Deni RInjani)

Ketua Bidang Kewilayahan Forum Jabar Selatan, Suryaman Anang Suatma
(Foto: Deni RInjani)

Ketua Bidang Kewilayahan Forum Jabar Selatan, Suryaman Anang Suatna, Kamis (24/10) mengatakan kotraktor yang melaksanakan lanjutan pengerjaan proyek sekarang ini, adalah kontraktor yang sama di tahun 2012. “Kontraktor pemenang tender proyek lintas Jabar Selatan pada 2013 ini adalah juga pelaksana proyek pada 2012 yang bermasalah,” kata Suryaman.

Menurut Suryaman, pelaksanaan proyek tersebut sangat lamban. Inipun menurut dia, diakui Dinas Bina Marga, baik Kabupaten Garut maupun Jabar. Tetapi kata dia, Dinas Bina Marga Jabar menyatakan kelambatan pengerjaan karena lokasi sulit dijangkau, dan sifat proyeknya crash program.

“Itu hanya alasan klise. Itu sama saja membenarkan bahwa memang perencanaannya dibuat asal-asalan. Tidak memperhitungkan waktu dan medan. Seharusnya dalam proyek apapun, waktu dan kondisi medan  harus sudah diperhitungkan,” papar dia.

Senada dengan Suryaman, Ketua Komunitas Masyarakat Pesisir Pantai Selatan Jawa Barat (Komppas Jabsel), Budi Cahyadi, menyatakan jika ada oknum pejabat yang mengemukan alasan seperti itu, itu pertanda ada yang tidak beres dalam proyek tersebut. Menurutnya, masyarakat Jabar Selatan, khususnya Garut, menginginkan pembangunan infrastruktur di wilayahnya itu benar-benar berkualitas. Tidak asal-asalan.

Karena itulah, berangkat dari keprihatianan itu Budi dan Suryaman, mendesak agar KPK , dan BPK serta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) melakukan audit kinerja atas proyek tersebut.

Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Pengelolaan Jalan Wilayah 5 Dinas Binamarga Provinsi Jawa Barat, Agus Hendrarto, mengatakan, peningkatan infrastruktur lintas Jabar Selatan yang dibiayai APBN Rp1 triliun itu sebagai proyek crash program. Faktor penghambat proyek tersebut yakni waktu pengerjaan dan akses lokasi proyek sulit dijangkau.

Namun demikian, pernyataan itu dianggap Suryaman, sebagai alasan untuk lepas tanggung jawab. “Pemerintah Pusat itu hanya memberikan dana. Sedangkan progres pelaksanaannya di provinsi, Pejabat Pembuat Komitmennya juga banyak pejabat di Bina Marga Jabar. Kami berharap ada tindakn tegas terhadap orang-orang yang membuat lambatnya pengerjaan proyek,” papar Suryaman. (ADR/WDJ)